Macam- Macam Bentuk Bagan Dalam Struktur Organisasi



Dalam suatu Organisasi pasti lah ada juga sebuh Stuktur nya jika dalam organisasi tidak ada strukturnya maka suatu perusahaan itu pasti akan bobrok dan hancur dalam penyusunan jabatannya masing-masing dan berikut adalah contoh dari gambar Bagan yang biasa perusahaan-perusahaan pakai pada umumnya yaitu:

1. Bagan Horizontal
mengapa bagan tersebut di katakan horizontal karena pada bagan tersebut jika semakin banyak jabatan-jabatan yang di buat dalam perusahaan tersebut maka bagan ini akan semakin luas menyamping


Bagan Struktur Organisasi Berbentuk Horizontal
 
2. Bagan Vertikal
Bagan vertikal adalah kebalikan dari bagan Horizontal. Bagan Vertikal pada umumnya bagan ini jika dalam perusahaan banyak sekali jabatan atau kepala-kepala bagian dari masing-masing divisi maka bagan ini akan semakin panjang ke bawah.

Bagan Struktur Organisasi Berbentuk Vertikal

 3. Bagan Lingkaran
Kenapa bagan ini berbentuk lingkaran karna mungkin dalam suatu perusahaan memang sangat memiliki perbedaan tersendiri dalam menyusun bagian-bagian dari perusahaan itu tersebut oleh karena itu banyak sekali model bagan yang terbentuk. pada model bagan ini jika setiap penambahan anggota maka bagan ini akan bertambah diameternya dan semakin membesar.

Bagan Struktur Organisasi Berbentuk Lingkaran

4. Bagan Piramid
Bagan ini sangat mudah digunakan karna bentuknya seperti Piramid yang menempatkan bagian-bagian dalam perusahaan yang paling tertinggi di letakan pada bagian TOP dan untuk karyawan di letakan MID dan untuk Office Boy di letakan pada Bagian LOWER.

Bagan Piramid

pada umumnya bagan yang paling sering di gunakan adalah bagan Horizontal dan bagan Vertikal karena bentuk dan pola yang cukup simple sehingga lebih mudah di mengerti oleh khalayak .
READMORE
 

Ciri-ciri dan Unsur - Unsur Organisasi

Secara sederhana, organisasi adalah suatu kerjasama sekelompok orang untuk mencapai tujuan bersama yang diinginkan dan mau terlibat dengan peraturan yang ada. Organisasi bisa disebut juga sebagai wadah atau tempat untuk melakukan kegiatan bersama, agar dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama
Adapun ciri-ciri dari organisasi adalah :
  • Adanya komponen ( atasan dan bawahan) 
  • Adanya kerja sama (cooperative yang berstruktur dari sekelompok orang 
  • Adanya tujuan 
  • Adanya sasaran 
  • Adanya keterikatan format dan tata tertib yang harus ditaat 
  • Adanya pendelegasian wewenang dan koordinasi tugas-tugas
Menurut Berelson dan Steiner(1964:55) sebuah organisasi memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
  1. Formalitas, merupakan ciri organisasi sosial yang menunjuk kepada adanya perumusan tertulis daripada peratutan-peraturan, ketetapan-ketetapan, prosedur, kebijaksanaan, tujuan, strategi, dan seterusnya.
  2. Hierarkhi, merupakan ciri organisasi yang menunjuk pada adanya suatu pola kekuasaan dan wewenang yang berbentuk piramida, artinya ada orang-orang tertentu yang memiliki kedudukan dan kekuasaan serta wewenang yang lebih tinggi daripada anggota biasa pada organisasi tersebut.
  3. Besarnya dan Kompleksnya, dalam hal ini pada umumnya organisasi sosial memiliki banyak anggota sehingga hubungan sosial antar anggota adalah tidak langsung (impersonal), gejala ini biasanya dikenal dengan gejala “birokrasi”.
Lamanya (duration), menunjuk pada diri bahwa eksistensi suatu organisasi lebih lama daripada keanggotaan orang-orang dalam organisasi itu.
Ada juga yang menyatakan bahwa organisasi sosial, memiliki beberapa ciri lain yang behubungan dengan keberadaan organisasi itu. Diantaranya ádalah:
  1. Rumusan batas-batas operasionalnya(organisasi) jelas. Seperti yang telah dibicarakan diatas, organisasi akan mengutamakan pencapaian tujuan-tujuan berdasarkan keputusan yang telah disepakati bersama. Dalam hal ini, kegiatan operasional sebuah organisasi dibatasi oleh ketetapan yang mengikat berdasarkan kepentingan bersama, sekaligus memenuhi aspirasi anggotanya.
  2. Memiliki identitas yang jelas. Organisasi akan cepat diakui oleh masyarakat sekelilingnya apabila memiliki identitas yang jelas. Identitas berkaitan dengan informasi mengenai organisasi, tujuan pembentukan organisasi, maupun tempat organisasi itu berdiri, dan lain sebagainya.
  3. Keanggotaan formal, status dan peran. Pada setiap anggotanya memiliki peran serta tugas masing masing sesuai dengan batasan yang telah disepakati bersama.
Jadi, dari beberapa ciri organisasi yang telah dikemukakan kita akan mudah membedakan yang mana dapat dikatakan organisasi dan yang mana tidak dapat dikatakan sebagai sebuah organisasi.

Unsur-Unsur  Organisasi
Unsur – Unsur Organisasi :
  • Manusia (Man).
  • Kerjasama
  •  Tujuan Bersama. 
  • Peralatan (Equipment). 
  • Lingkungan. 
  • Kekayaan alam. 
  • Kerangka/Konstruksi mental
Secara garis besar organisasi mempunyai tiga unsur yaitu :
  • Manusia 
  • Kerjasama. 
  • Tujuan bersama-sama.
Dari ketiga unsur tersebut saling terkait dan mempunyai satu kesatuan. dari berbagai macam teori organisasi yang di kemukakan oleh para ahli tidak ada satu pun yang memiliki kebenaran mutlak. dan antara teori organisasi yang satu dengan yang lain saling melengkapi.

Unsur-unsur Organisasi
Setiap bentuk organisasi akan mempunyai unsur-unsur tertentu, yang antara lain sebagai berikut:
  • Sebagai wadah atau tempat untuk bekerja sama. 
  • Proses kerja sama sedikitnya antara dua orang 
  • Jelas tugas dan kedudukannya masing-masing 
  • Ada tujuan tertentu
Secara ringkas unsur-unsur organisasi yang paling dasar adalah :
  • Harus ada wadah atau tempatnya untuk bekerja sama. 
  • Harus ada orang-orang yang bekerja sama. 
  • Kedudukan dan tugas masing-masing orang harus jelas. 
  • Harus ada tujuan bersama yang mau dicapai.
READMORE
 

Pengertian Organisasi Menurut Para tokoh


Sebelum diberikan kepastian tentang pengertian organisasi, ada baiknya di sini dikutipkan beberapa pendapat tentang hal itu dari berbagai ahli. Pendapat-pendapat di bawah ini disusun secara kronologis atas dasar tahun pendapat itu dikemukakan. 

 1. Oliver Sheldon (1923)

"Organization is the process of so combining the work which individuals or groups have to perform with the faculties necessary for it execution that the duties, so formed, provide the best channels, for the efficient, systematic, positive, and co-ordinated application of the available effort."

Organisasi adalah proses penggabungan pekerjaan yang para individu atau kelompok-kelompok harus melakukan dengan bakat-bakat yang diperlukan untuk melakukan tugas-tugas, sedemikan rupa, memberikan saluran terbaik untuk pemakaian yang efisien, sistematis, positif, dan terkoordinasi dari usaha yang tersedi
a 

2. Chester I. Barnard (1938)

"Organization is a system of cooperative activities of two or more person something intangible and impersonal, largely a matter of relationship."

Organisasi adalah suatu sistem tentang aktivitas-aktivitas kerja sama dari dua orang atau lebih sesuatu yang tak berwujud dan tak bersifat pribadi, sebagian besar mengenai hal hubungan-hubungan.   


3. Dexter Kimball & Dexter Kimball, Jr. (1947)

"Organization is subsidiary to management. It embraces the duties of designating the departments and personnel that are to carry on the work, defining their functions and specifying the relations that are to exist between departments and individuals. Organization as an activity is, in fact, a mechanisms of management."

Organisasi merupakan bantuan bagi manajemen. Ini mencakup kewajiban-kewajiban merancang satuan-satuan organisasi dan pejabat yang harus melakukan pekerjaan, menentukan fungsi-fungsi mereka dan merinci hubungan-hubungan yang harus ada di antara satuan-satuan dan orang-orang. Organisasi sebagai suatu aktivitas, sesungguhnya, adalah cara kerja manajemen.
READMORE
 

Resensi Novel "Negeri 5 Menara"

RESENSI NOVEL “NEGERI 5 MENARA”



1. Identitas Buku

Judul Buku                  : Negeri 5 Menara
Nama Pengarang         : Ahmad Fuadi
Tahun Terbit                : 2009
Nama Penerbit             : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tempat Terbit              : Jakarta
Tebal Buku                  : 423 Halaman

2. Sinopsis
Pengarang Novel ini yang berperan sebagai Alif tidak menyangka dan tak percaya bisa menjadi seperti sekarang ini. Pemuda asal Desa Bayur, Maninjau, Sumatera Barat itu adalah pemuda desa yang diharapkan bisa menjadi seorang guru agama yang baik dan berpendidikan seperti yang diinginkan kedua orangtuanya. Keinginan kedua orangtua Alif tentu saja tidak salah. Jelas apabila seorang Ibu, menginginkan agar anak-anaknya menjadi orang yang sukses, berhasil dan dihormati di kampung seperti menjadi guru agama.
Kisah ini berawal dari Minang sekitar danau Maninjau yang mengisahkan tantang perjalanan hidup seorang anak laki-laki bernama Alif, yang bersekolah di madrasah tsanawiyah. Ia lulus dengan nilai ujian sepuluh terbaik di Kabupaten Agam. Alif dan Randi mempunyai keinginan melanjutkan sekolahnya di SMA.
Ternyata keinginan Alif itu berbeda dengan keinginan i bunya. Ia ingin melihat dunia luar dan ingin sukses seperti  tokoh yang ia baca di buku atau mendengar cerita temannya di desa. Namun, keinginan Alif tidaklah mudah untuk diwujudkan. Kedua orangtuanya berkata lain, Beliau menginginkan agar Alif tetap tinggal dan sekolah di kampung untuk menjadi guru agama. Alif mendapat saran dari Pak Etek Gindo (Paman Alif) agar melanjutkan sekolahnya di Pondok Madani, Gontor, Jawa Timur. Akhirnya Alif mengikuti saran dari pamannya. Disana Alif berkenalan dengan Raja alias Adnin Amas, Atang alias Kuswandani, Dulmajid alias Monib, Baso alias Ikhlas Budiman dan Said alias Abdul Qodir.
Siswa-siswa yang menuntut ilmu di Pondok Pesantren Gontor ini setiap sore mempunyai kebiasaan-kebiasaan yang unik. Menjelang Adzan Maghrib, mereka berkumpul di bawah menara masjid sambil melihat ke awan. Dengan membayangkan awan itulah mereka melambungkan impiannya. Misalnya Alif mengaku jika awan itu bentuknya seperti benua Amerika, sebuah negara yang ingin ia kunjungi setelah lulus nanti. Begitu pula lainnya menggambarkan awan itu seperti negara Arab Saudi ataupun Mesir.
Melalui kehidupan di pesantren yang tidak dibayangkan selama ini, ternyata lima santri-santri itu bertemu kembali di London, Inggris beberapa tahun kemudian. Kemudian mereka bernostalgia dan saling membuktikan impian mereka seperti saat mereka masih berada di bawah menara masjid Pondok Pesantren Gontor, Jawa Timur dan menggambarkan awan-awan dilangit itu seperti impian mereka terdahulu.

3. Kelebihan Buku
Novel Negeri 5 Menara ini sangat menarik, mengharukan, dan sangat inspiratif.
·    Banyak nilai-nilai keislaman yang terkandung dalam novel ini.
·    Pondok Madani tidak hanya sebuah sekolah agama (yang biasanya menjadi pilihan terakhir orang atau sebagai bengkel akhlak orang yang telah rusak), namun juga menjadi miniatur kehidupan nyata.
Memberikan perspektif baru terhadap dunia pesantren berupa penjelasan bahwa sekolah di pesantren itu tidak hanya diperuntukkan kepada anak-anak yang bermasalah. Tetapi untuk semua kalangan yang ingin belajar, baik dalam ilmu agama ataupun non agama.
Memberikan semangat untuk meraih impian, dengan cara setiap hari menyerukan kalimat Man Jadda Wajadda (jika siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil).
Memberikan keyakinan untuk mewujudkan impianDari membaca novel ini, kita bisa dapat mengambil kesimpulan: bahwa setinggi apapun impian kita dan cita-cita kita, bisa diraih dengan kerja keras (usaha), disiplin tinggi, dan doa.

4. Kekurangan Buku
Cerita tentang kenangan masa lalu yang seharusnya tidak perlu diceritakan karena tidak penting dan tidak ada kaitan dengan inti cerita.
Beberapa bacaan tentang Bahasa Arab tidak diterjemahkan.
Beberapa bacaan menggunakan bahasa yang sedikit sulit untuk dipahami.
Novel Negeri 5 Menara ini, alur ceritanya cepat berubah.

 5. Saran
Cerita yang tidak perlu, sebaiknya tidak dibahas.
Istilah Bahasa Arab dijelaskan lebih lengkap sehingga pembaca tidak bingung.
Bahasa yang sulit dipahami agar disederhanakan kembali.
Alur cerita lebih konsisten.
READMORE
 

SUKU TENGGER,JAWA TIMUR


SUKU TENGGER,JAWA TIMUR




Suku Tengger adalah sebuah suku yang tinggal di sekitar Gunung Bromo, Jawa Timur, yakni menempati sebagian wilayah Kabupaten Pasuruan, Lumajang, Probolinggo, dan Malang. Suku Tengger merupakan sub suku Jawa menurut sensus BPS tahun 2010.
Orang-orang suku Tengger dikenal taat dengan aturan dan agama Hindu. Mereka yakin merupakan keturunan langsung dari Majapahit. Nama Tengger berasal dari Legenda Roro Anteng dan Joko Seger yang diyakini sebagai asal usul nama Tengger, yaitu "Teng" akhiran nama Roro An-"teng" dan "ger" akhiran nama dari Joko Se-"ger".



Bagi suku Tengger, Gunung Brahma (Bromo) dipercaya sebagai gunung suci. Setahun sekali masyarakat Tengger mengadakan upacara Yadnya Kasada atau Kasodo. Upacara ini bertempat di sebuah pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo utara yakni Pura Luhur Poten Bromo dan dilanjutkan ke puncak gunung Bromo. Upacara diadakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa



Bahasa Tengger
Dituturkan di
Jawa Timur
Jumlah penutur
80.000 (sensus 2000)  (tidak ada tanggal)
Rumpun bahasa
Austronesia
·         Melayu-Polinesia
o    Jawa
§  Bahasa Tengger


Bahasa Tengger dituturkan di daerah Gunung Bromo yang termasuk wilayah Pasuruan, Probolinggo, Malang dan Lumajang.
Di Pasuruan, cara Tengger ditemukan di kecamatan Tosari, lalu di Probolinggo, daerah kecamatan Sukapura, sedangkan Malang, cara Tengger dituturkan di wilayah desa Ngadas, kecamatan Poncokusumo. Yang terakhir, di Lumajang dituturkan di wilayah Ranupane, kecamatan Senduro. Secara linguistik, bahasa Tengger termasuk rumpun bahasa Jawa dalam cabang Melayu-Polinesia dari rumpun bahasa Austronesia. Ada yang menganggap bahasa Tengger itu turunan basa Kawi dan banyak mempertahankan kalimat-kalimat kuno yang sudah tak digunakan lagi dalam Bahasa Jawa modern.
Contoh :
  • reang: aku, jika yang berbicara lelaki
  • isun : aku, jika yang berbicara perempuan
Apabila abjad a dalam bahasa Jawa modern dibaca O, di Tengger dibaca A

Ritual Suku Tengger Bromo,Jawa Timur

Sebagai ungkapan rasa sykur kepada sang pencipta, ribuan warga suku Tengger yang berada di kawasan Gunung Bromo, Probolinggo, Jawa Timur, menggelar ritual Yatna Kasada. Meski kabut tebal dan suhu yang tidak lebih dari 5 derajat celcius namun hal itu tidak mengurangi suasana khitmat selama ritual pembuangan aneka sesaji hasil bumi ke pusat kawah Bromo tersebut.
Ritual Yatya Kasada digelar saat purnama. Pada bulan kasada sesuai penanggalan warga Hindu Tengger. Yatya kasada diawali dengan malam resepsi di pendopo agung, di Desa Ngadisari, yang merupakan wilayah terdekat dari kawah Bromo dan dihadiri para tokoh dan sesepuh adat. Ritual selanjutnya adalah buka lawang, yang dipusatkan di pura Ponten Bromo.
Ritual ini dimaksudkan untuk meminta izin kepada para leluhur sebelum kasada digelar. Meskipun cuaca berkabut dengan suhu sekitar 5 derajat celcius tidak mengurangi suasana khidmat. Ritual kasada berangkat dari mitologi masyarakat Tengger dimana konon dua leluhur Tengger yakni Roro Anteng, dan Jaka Seger berjanji akan mengorbankan anaknya ke kawah Bromo, bila yang maha kuasa, menganugrahkan keturunan.
Puncak tradisi adalah dengan melarung puluhan ongkek, sebutan untuk aneka sesaji hasil bumi. Acara ini menarik ratusan wisatawan. Sebagian dari mereka bahkan ihklas melintasi lautan pasir untuk mengarak sesaji. Namun sayangnya puncak acara tidak bisa di ikuti seluruh warga. Karena bibir kawah yang menipis dan berbahaya.

FILOSOFI DARI RITUAL YADNYA KASADA

Sedekah bumi dibawa ke kawah Gunung Bromo (Foto: kmk312ratna.wordpress

PROBOLINGGO - Ribuan warga suku Tengger yang bermukim di Brang Kulon dan Brang Wetan di lereng Gunung Bromo menggelar upacara adat Yadnya Kasada di Pura Agung Poten. Ritual adat perayaan Yadnya Kasada ini ditutup dengan melarung sedekah bumi ke salah satu pusaran bumi, kawah Gunung Bromo.
Suku Tengger yang bermukim di empat kabupaten yang mengelilingi Gunung Bromo memulai ritual adat ini sejak Selasa lalu dengan melakukan mendak tirta (mengambil air suci) di sejumlah mata air dikawasan Gunung Bromo.
Warga suku Tengger yang tinggal di Brang Kulon, yakni di Pasuruan dan Malang, mendak tirta di Gunung Widodaren, sedangkan warga Brang Wetan melakukan mendak tirta di Ranupane (Lumajang) dan air terjun Madakaripura (Probolinggo). Air suci dari berbagai sumber mata air tersebut dipergunakan untuk keperluan ritual di Pura Agung Poten yang berada di lautan pasir (kaldera) Gunung Bromo.
Romo Dukun Supayadi mengungkapkan, perayaan Yadnya Kasada ini merupakan ritual adat Suku Tengger yang diperingati pada hari ke-15 bulan purnama di bulan Kasada. Sebagai ungkapan rasa syukur kepada Sang Hyang Widhi dan para leluhur, warga Tengger menggelar ritual sesembahan berupa sesaji hasil bumi dan ternak yang dilarung di kawah Gunung Bromo.
"Larung sesaji berupa hasil bumi, palawija, dan ternak ini adalah bentuk rasa syukur warga Tengger kepada Tuhan. Sesaji yang telah diberikan mantra ini kemudian dilarung di kawah Gunung Bromo," kata Romo Dukun Supayadi, Sabtu (4/8/2012).Menurut dukun adat dari Desa Wonokitri, Tosari Kabupaten Pasuruan tersebut, rangkaian Yadna Kasada dirayakan dimasing-masing daerah pemukiman warga Tengger. Di antaranya dengan menggelar berbagai kesenian tradisional tayuban, reog serta resepsi dan pesta penyambutan tamu pada Jumat malam. Di Brang Kulon, pesta penyambutan tamu digelar di Pendapa Agung Wonokitri, Tosari Pasuruan, sedangkan di Brang Wetan dilakukan di Pendapa Cemorolawang, Sukapura, Probolinggo.
Menjelang tengah malam, warga suku tengger dari berbagai empat wilayah turun ke lautan pasir (kaldera) untuk melaksanakan puncak ritual upacara Yadnya Kasada di Pura Agung Poten. Berbagai sesembahan berupa hasil bumi dan ternak yang dibawa warga dimintakan mantra-mantra kepada pemimpin adat Suku Tengger. Usai ritual adat, Sabtu dini hari, warga berbondong-bondong menuju puncak untuk melarung sesaji di kawah Gunung Bromo.
Ritual adat perayaan Yadnya Kasada ini merupakan momen yang paling ditunggu para wisatawan Nusantara maupun mancanegara untuk berkunjung ke Gunung Bromo. Pada tiga kali perayaan Yadnya Kasada atau sejak 2010, selalu bersamaan dengan bulan Ramadan. Sehingga secara tidak langsung berpengaruh pada jumlah wisatawan. Namun pada tahun 2013 mendatang, perayaan Yadnya Kasada tidak lagi berbarengan dengan bulan Ramadan
READMORE