Resensi Novel "Negeri 5 Menara"

RESENSI NOVEL “NEGERI 5 MENARA”



1. Identitas Buku

Judul Buku                  : Negeri 5 Menara
Nama Pengarang         : Ahmad Fuadi
Tahun Terbit                : 2009
Nama Penerbit             : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tempat Terbit              : Jakarta
Tebal Buku                  : 423 Halaman

2. Sinopsis
Pengarang Novel ini yang berperan sebagai Alif tidak menyangka dan tak percaya bisa menjadi seperti sekarang ini. Pemuda asal Desa Bayur, Maninjau, Sumatera Barat itu adalah pemuda desa yang diharapkan bisa menjadi seorang guru agama yang baik dan berpendidikan seperti yang diinginkan kedua orangtuanya. Keinginan kedua orangtua Alif tentu saja tidak salah. Jelas apabila seorang Ibu, menginginkan agar anak-anaknya menjadi orang yang sukses, berhasil dan dihormati di kampung seperti menjadi guru agama.
Kisah ini berawal dari Minang sekitar danau Maninjau yang mengisahkan tantang perjalanan hidup seorang anak laki-laki bernama Alif, yang bersekolah di madrasah tsanawiyah. Ia lulus dengan nilai ujian sepuluh terbaik di Kabupaten Agam. Alif dan Randi mempunyai keinginan melanjutkan sekolahnya di SMA.
Ternyata keinginan Alif itu berbeda dengan keinginan i bunya. Ia ingin melihat dunia luar dan ingin sukses seperti  tokoh yang ia baca di buku atau mendengar cerita temannya di desa. Namun, keinginan Alif tidaklah mudah untuk diwujudkan. Kedua orangtuanya berkata lain, Beliau menginginkan agar Alif tetap tinggal dan sekolah di kampung untuk menjadi guru agama. Alif mendapat saran dari Pak Etek Gindo (Paman Alif) agar melanjutkan sekolahnya di Pondok Madani, Gontor, Jawa Timur. Akhirnya Alif mengikuti saran dari pamannya. Disana Alif berkenalan dengan Raja alias Adnin Amas, Atang alias Kuswandani, Dulmajid alias Monib, Baso alias Ikhlas Budiman dan Said alias Abdul Qodir.
Siswa-siswa yang menuntut ilmu di Pondok Pesantren Gontor ini setiap sore mempunyai kebiasaan-kebiasaan yang unik. Menjelang Adzan Maghrib, mereka berkumpul di bawah menara masjid sambil melihat ke awan. Dengan membayangkan awan itulah mereka melambungkan impiannya. Misalnya Alif mengaku jika awan itu bentuknya seperti benua Amerika, sebuah negara yang ingin ia kunjungi setelah lulus nanti. Begitu pula lainnya menggambarkan awan itu seperti negara Arab Saudi ataupun Mesir.
Melalui kehidupan di pesantren yang tidak dibayangkan selama ini, ternyata lima santri-santri itu bertemu kembali di London, Inggris beberapa tahun kemudian. Kemudian mereka bernostalgia dan saling membuktikan impian mereka seperti saat mereka masih berada di bawah menara masjid Pondok Pesantren Gontor, Jawa Timur dan menggambarkan awan-awan dilangit itu seperti impian mereka terdahulu.

3. Kelebihan Buku
Novel Negeri 5 Menara ini sangat menarik, mengharukan, dan sangat inspiratif.
·    Banyak nilai-nilai keislaman yang terkandung dalam novel ini.
·    Pondok Madani tidak hanya sebuah sekolah agama (yang biasanya menjadi pilihan terakhir orang atau sebagai bengkel akhlak orang yang telah rusak), namun juga menjadi miniatur kehidupan nyata.
Memberikan perspektif baru terhadap dunia pesantren berupa penjelasan bahwa sekolah di pesantren itu tidak hanya diperuntukkan kepada anak-anak yang bermasalah. Tetapi untuk semua kalangan yang ingin belajar, baik dalam ilmu agama ataupun non agama.
Memberikan semangat untuk meraih impian, dengan cara setiap hari menyerukan kalimat Man Jadda Wajadda (jika siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil).
Memberikan keyakinan untuk mewujudkan impianDari membaca novel ini, kita bisa dapat mengambil kesimpulan: bahwa setinggi apapun impian kita dan cita-cita kita, bisa diraih dengan kerja keras (usaha), disiplin tinggi, dan doa.

4. Kekurangan Buku
Cerita tentang kenangan masa lalu yang seharusnya tidak perlu diceritakan karena tidak penting dan tidak ada kaitan dengan inti cerita.
Beberapa bacaan tentang Bahasa Arab tidak diterjemahkan.
Beberapa bacaan menggunakan bahasa yang sedikit sulit untuk dipahami.
Novel Negeri 5 Menara ini, alur ceritanya cepat berubah.

 5. Saran
Cerita yang tidak perlu, sebaiknya tidak dibahas.
Istilah Bahasa Arab dijelaskan lebih lengkap sehingga pembaca tidak bingung.
Bahasa yang sulit dipahami agar disederhanakan kembali.
Alur cerita lebih konsisten.
READMORE
 

SUKU TENGGER,JAWA TIMUR


SUKU TENGGER,JAWA TIMUR




Suku Tengger adalah sebuah suku yang tinggal di sekitar Gunung Bromo, Jawa Timur, yakni menempati sebagian wilayah Kabupaten Pasuruan, Lumajang, Probolinggo, dan Malang. Suku Tengger merupakan sub suku Jawa menurut sensus BPS tahun 2010.
Orang-orang suku Tengger dikenal taat dengan aturan dan agama Hindu. Mereka yakin merupakan keturunan langsung dari Majapahit. Nama Tengger berasal dari Legenda Roro Anteng dan Joko Seger yang diyakini sebagai asal usul nama Tengger, yaitu "Teng" akhiran nama Roro An-"teng" dan "ger" akhiran nama dari Joko Se-"ger".



Bagi suku Tengger, Gunung Brahma (Bromo) dipercaya sebagai gunung suci. Setahun sekali masyarakat Tengger mengadakan upacara Yadnya Kasada atau Kasodo. Upacara ini bertempat di sebuah pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo utara yakni Pura Luhur Poten Bromo dan dilanjutkan ke puncak gunung Bromo. Upacara diadakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa



Bahasa Tengger
Dituturkan di
Jawa Timur
Jumlah penutur
80.000 (sensus 2000)  (tidak ada tanggal)
Rumpun bahasa
Austronesia
·         Melayu-Polinesia
o    Jawa
§  Bahasa Tengger


Bahasa Tengger dituturkan di daerah Gunung Bromo yang termasuk wilayah Pasuruan, Probolinggo, Malang dan Lumajang.
Di Pasuruan, cara Tengger ditemukan di kecamatan Tosari, lalu di Probolinggo, daerah kecamatan Sukapura, sedangkan Malang, cara Tengger dituturkan di wilayah desa Ngadas, kecamatan Poncokusumo. Yang terakhir, di Lumajang dituturkan di wilayah Ranupane, kecamatan Senduro. Secara linguistik, bahasa Tengger termasuk rumpun bahasa Jawa dalam cabang Melayu-Polinesia dari rumpun bahasa Austronesia. Ada yang menganggap bahasa Tengger itu turunan basa Kawi dan banyak mempertahankan kalimat-kalimat kuno yang sudah tak digunakan lagi dalam Bahasa Jawa modern.
Contoh :
  • reang: aku, jika yang berbicara lelaki
  • isun : aku, jika yang berbicara perempuan
Apabila abjad a dalam bahasa Jawa modern dibaca O, di Tengger dibaca A

Ritual Suku Tengger Bromo,Jawa Timur

Sebagai ungkapan rasa sykur kepada sang pencipta, ribuan warga suku Tengger yang berada di kawasan Gunung Bromo, Probolinggo, Jawa Timur, menggelar ritual Yatna Kasada. Meski kabut tebal dan suhu yang tidak lebih dari 5 derajat celcius namun hal itu tidak mengurangi suasana khitmat selama ritual pembuangan aneka sesaji hasil bumi ke pusat kawah Bromo tersebut.
Ritual Yatya Kasada digelar saat purnama. Pada bulan kasada sesuai penanggalan warga Hindu Tengger. Yatya kasada diawali dengan malam resepsi di pendopo agung, di Desa Ngadisari, yang merupakan wilayah terdekat dari kawah Bromo dan dihadiri para tokoh dan sesepuh adat. Ritual selanjutnya adalah buka lawang, yang dipusatkan di pura Ponten Bromo.
Ritual ini dimaksudkan untuk meminta izin kepada para leluhur sebelum kasada digelar. Meskipun cuaca berkabut dengan suhu sekitar 5 derajat celcius tidak mengurangi suasana khidmat. Ritual kasada berangkat dari mitologi masyarakat Tengger dimana konon dua leluhur Tengger yakni Roro Anteng, dan Jaka Seger berjanji akan mengorbankan anaknya ke kawah Bromo, bila yang maha kuasa, menganugrahkan keturunan.
Puncak tradisi adalah dengan melarung puluhan ongkek, sebutan untuk aneka sesaji hasil bumi. Acara ini menarik ratusan wisatawan. Sebagian dari mereka bahkan ihklas melintasi lautan pasir untuk mengarak sesaji. Namun sayangnya puncak acara tidak bisa di ikuti seluruh warga. Karena bibir kawah yang menipis dan berbahaya.

FILOSOFI DARI RITUAL YADNYA KASADA

Sedekah bumi dibawa ke kawah Gunung Bromo (Foto: kmk312ratna.wordpress

PROBOLINGGO - Ribuan warga suku Tengger yang bermukim di Brang Kulon dan Brang Wetan di lereng Gunung Bromo menggelar upacara adat Yadnya Kasada di Pura Agung Poten. Ritual adat perayaan Yadnya Kasada ini ditutup dengan melarung sedekah bumi ke salah satu pusaran bumi, kawah Gunung Bromo.
Suku Tengger yang bermukim di empat kabupaten yang mengelilingi Gunung Bromo memulai ritual adat ini sejak Selasa lalu dengan melakukan mendak tirta (mengambil air suci) di sejumlah mata air dikawasan Gunung Bromo.
Warga suku Tengger yang tinggal di Brang Kulon, yakni di Pasuruan dan Malang, mendak tirta di Gunung Widodaren, sedangkan warga Brang Wetan melakukan mendak tirta di Ranupane (Lumajang) dan air terjun Madakaripura (Probolinggo). Air suci dari berbagai sumber mata air tersebut dipergunakan untuk keperluan ritual di Pura Agung Poten yang berada di lautan pasir (kaldera) Gunung Bromo.
Romo Dukun Supayadi mengungkapkan, perayaan Yadnya Kasada ini merupakan ritual adat Suku Tengger yang diperingati pada hari ke-15 bulan purnama di bulan Kasada. Sebagai ungkapan rasa syukur kepada Sang Hyang Widhi dan para leluhur, warga Tengger menggelar ritual sesembahan berupa sesaji hasil bumi dan ternak yang dilarung di kawah Gunung Bromo.
"Larung sesaji berupa hasil bumi, palawija, dan ternak ini adalah bentuk rasa syukur warga Tengger kepada Tuhan. Sesaji yang telah diberikan mantra ini kemudian dilarung di kawah Gunung Bromo," kata Romo Dukun Supayadi, Sabtu (4/8/2012).Menurut dukun adat dari Desa Wonokitri, Tosari Kabupaten Pasuruan tersebut, rangkaian Yadna Kasada dirayakan dimasing-masing daerah pemukiman warga Tengger. Di antaranya dengan menggelar berbagai kesenian tradisional tayuban, reog serta resepsi dan pesta penyambutan tamu pada Jumat malam. Di Brang Kulon, pesta penyambutan tamu digelar di Pendapa Agung Wonokitri, Tosari Pasuruan, sedangkan di Brang Wetan dilakukan di Pendapa Cemorolawang, Sukapura, Probolinggo.
Menjelang tengah malam, warga suku tengger dari berbagai empat wilayah turun ke lautan pasir (kaldera) untuk melaksanakan puncak ritual upacara Yadnya Kasada di Pura Agung Poten. Berbagai sesembahan berupa hasil bumi dan ternak yang dibawa warga dimintakan mantra-mantra kepada pemimpin adat Suku Tengger. Usai ritual adat, Sabtu dini hari, warga berbondong-bondong menuju puncak untuk melarung sesaji di kawah Gunung Bromo.
Ritual adat perayaan Yadnya Kasada ini merupakan momen yang paling ditunggu para wisatawan Nusantara maupun mancanegara untuk berkunjung ke Gunung Bromo. Pada tiga kali perayaan Yadnya Kasada atau sejak 2010, selalu bersamaan dengan bulan Ramadan. Sehingga secara tidak langsung berpengaruh pada jumlah wisatawan. Namun pada tahun 2013 mendatang, perayaan Yadnya Kasada tidak lagi berbarengan dengan bulan Ramadan
READMORE
 

Tugas ILMU SOSIAL DASAR

PENGERTIAN ILMU BUDAYA DASAR

Secara sederhana Ilmu Budaya Dasar adalah pengetahuan yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan.
Istilah llmu Budaya Dasar dikembangkan di Indonesia sebagai pengganti istilah Basic Humanitiesm yang berasal dari istilah bahasa Inggris "The Humanities". Adapun istilah Humanities itu sendiri berasal dan bahasa latin humanus yang bisa diartikan manusia, berbudaya dan halus. Dengan mempelajari the htimanities diandaikan seseorang akan bisa menjadi lebih manusiawi, lebih berbudaya dan lebih halus. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa the humanities berkaitan dengan nilai-nilai yaitu nilai-nilai manusia sebagai homo humanus atau manusia berbudaya. Agar supaya manusia bisa menjadi humanus, mereka hams mempelajari ilmu yaitu the humanities disamping tidak meninggalkan tanggungjawabnya yang lain sebagai manusia itu sendiri.
Untuk mengetahui bahwa Ilmu Budaya Dasar termasuk kelompok pengetahuan budaya, lebih dahulu perlu diketahui pengelompokan ilmu pengetahuan. Prof.Dr.Harsya Bachtiar mengemukakan bahwa ilmu dan pengetahuan dikelompokkan dalam tiga kelompok besar, yaitu :
1. Ilmu-ilmu Alamiah ( natural science )
Ilmu ilmu alamiah bertujuan mengetahui keteraturan-keteraturan yang terdapat dalam alam semesta. Untuk mengkaji hal itu digunakan metode ilmiah. Caranya ialah dengan menentukan hukum yang berlaku mengenai keteraturan-keteraturan itu, lalu dibuat analisis untuk menentukan suatu kualitas. Hasil analisis itu kemudian digeneralisasikan. Atas dasar ini lalu dibuat prediksi . Hasil penelitiannya 100 % benar dan 100 % salah. Yang termasuk kelompok ilmu-ilmu alamiah antara lain ialah astronomi, fisika, kimia, biologi, kedokteran, mekanika.
2. Ilmu-ilmu Sosial ( social science )
Ilmu-ilmu sosial bertujuan untuk mengkaji keteraturan-keteraturan yang terdapat dalam hubungan antar manusia. Untuk mengkaji hal itu digunakan metode ilmiah sebagai pinjaman dari ilmu-ilmu alamiah. Tetapi hash penelitiannya tidak mungkin 100 % benar, hanya mendekati kebenaran. Sebabnya ialah keteraturan dalam hubungan antar manusia itu tidak dapat berubah dari saat ke saat. Yang termasuk kelompok ilmu-ilmu sosial antara lain ilmu ekonomi, sosiologi, politik, demografi, psikologi, antropologi sosial, sosiologi hukum, dsb.
3. Pengetahuan budaya ( the humanities )
Pengetahuan budaya bertujuan untuk memahami dan mencari arti kenyataan-kenyataan yang bersifat manusiawi. Untuk mengkaji hal itu digunakan metode pengungkapan peristiwa-peristiwa dan pemyataan-pemyataan yang bersifat unik, kemudian diberi arti. Peristiwa-peristiwa dan pemyatan-pemyataan itu pada umumnya terdapat dalam tulisan-tulisan., Metode ini tidak ada sangkut pautnya dengan metode ilmiah, hanya mungkin ada pengaruh dari metode ilmiah.
Pengetahuan budaya ( The Humanities ) dibatasi sebagai pengetahuan yang mencakup kcahlian (disiplin) scni dan filsafat. Keahlian inipun dapat dibagi-bagi lagi ke dalam berbagai bidang kcahlian lain, seperti seni tari, seni rupa, seni musik, dll. Sedang Ilmu Budaya Dasat ( Basic Humanities ) adalah usaha yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan. Dengan perkataan lain Ilmu Budaya dasar menggunakan pengertian-pengertian yang berasal dari berbagai bidang pengetahuan budaya untuk mengembangkan wawasan pemikiran dan kepekaan dalam mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan.
Ilmu budaya dasar berbeda dengan pengetahuan budaya. Ilmu budaya dasar dalam bahasa Inggris disebut dengan Basic Humanities. Pengetahuan budaya dalam bahasa inggris disebut dengan istilah the humanities. pengetahuan budaya mengkaji masalah nilai-nilai manusia sebagai mahluk betbudaya ( homo humanus ), sedangkan Ilmu budaya dasar bukan ilmu tentang budaya, melainkan mengenai pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan budaya.

Latar Belakang ILMU SOSIAL DASAR

Latar belakang ilmu budaya dasar bermula dari kritik yang diberikan oleh sejumlah cendikiawan mengenai system pendidikan kita yang dinilai sebagai warisan system pendidikan pemerintahan Belanda pada masa penjajahan. System pendidikan tersebut merupakan kelanjutan dari politik balas budi yang diajukan oleh Conrad Theodore Van Deventer. Adapun tujuannya adalah menghasilkan tenaga terampil dalam bidang administrasi, perdagangan, teknik,dan keahlian lain demi kelancaran usaha mereka dalam mengeksploitasi kekayaan Negara kita.
Sampai sekarang, system pendidikan yang terkotak-kotak telah menghasilkan banyak tenaga ahli yang berpengalaman dalam disiplin ilmu tertentu. Padahal pendidikan itu seharusnya lebih ditujukan untuk menciptakan kaum cendikiawan daripada mencetak tenaga yang terampil. Para lulusan perguruan tinggi diharapkan dapat berperan sebagai sumber utama bagi pembangunan Negara secara menyeluruh. Dari mereka diharapkan adanya sumbangan ide bagi pemecahan masalah social masyarakat yang sangat kompleks dan berkaitan satu dan lain, dan juga dalam masalah budaya. Sehingga perguruan tinggi Indonesia mampu menghasilkan sarjana yang tidak asing dengan kehidupan masyarakat serta gejolak perkembangan dan kebutuhannya, dan juga mengenali dimensi lain di luar disiplin ilmunya. Sebagai ikhtisar untuk tujuan itu, Ilmu Budaya Dasar diberikan sebagai pelengkap pembentukan sarjana, yang mampu memecahkan permasalahan yang timbul dalam lingkungan masyarakat.
Latar belakang diberikannya IBD selain melihat konteks budaya Indonesia, juga sesuai dengan program pendidikan di Perguruan Tinggi dalam rangka menyempurnakan pembentukan sarjana. Perguruan tinggi diharapkan dapat menghasilkan sarjana-sarjana yang mempunyai seperangkat pengetahuan yang terdiri atas :
·         Kemampuan akademis yang merupakan kemampuan untuk berkomunikasi secara ilmiah, baik lisan maupun tulisan, menguasai peralatan analisis, maupun berfikir logis, kritis, sistematis, dan analitis, memiliki kemampuan konsepsional untuk mengidentifikasi dan merumuskan masalah yang dihadapi, serta mampu menawarkan alternatife pemecahannya.
·         Kemampuan profesional yang merupakan kemampuan dalam bidang profesi tenaga ahli yang bersangkutan. Dengan kemampuan ini, para tenaga ahli diharapkan memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang tinggi dalam bidang profesinya.
·         Kemampuan personal yang merupakan kemampuan kepribadian. Dengan kemampuan ini para tenaga ahli diharapkan memiliki pengetahuan sehingga mampu menunjukkan sikap, tingkah laku dan tindakan yang mencerminkan kepribadian Indonesia, memahami dan mengenal nilai-nilai keagamaan, kemasyarakatan dan kenegaraan, serta memiliki pandangan yang luas dan peka terhadap berbagai masalah yang dihadapi oleh masyarkat Indonesia.
Adapun latar belakang diberikannya mata kuliah IBD dalam konteks budaya, Negara dan masyarakat Indonesia berkaitan dengan permasalahannya sebgai berikut :
·         Kenyataan bahwa bangsa Indonesia terdiri atas berbagai suku bangsa dengan segala keanekaragaman budaya yang tercermin dalam berbagai aspek kebudayaannya, yang biasanya tidak lepas dari ikatan-ikatan primordial, kesukuan dan kedaerahan.
·         Pembangunan telah membawa perubahan dalam masyarakat yang menimbulkan pergeseran system nilai budaya dan sikap yang mengubah anggota masyarakat terhadap nilai-nilai budaya. Pembangunan telah menimbulkan mobilitas social, yang diikuti oleh hubungan interaksi yang bergeser dalam kelompok masyarakat. Sementara ini, terjadi juga penyesuaian dalam hubungan antar anggota masyarakat. Dengan demikian, dapat dipahamai bila penggeseran nilai itu membawa akibat jauh dalam kehidupan berbangsa.
·         Kemajuan dalam bidang teknologi komunikasi massa dan transportasi, membawa pengaruh terhadap intensitas kontak budaya antarsuku maupun dengan kebudayaan dari luar. Terjadinya kontak budaya dengan kebudayaan asing bukan hanya menyebabkan intensitasnya menjadi lebih besar, tetapi juga penyebarannya berlangsung dengan cepat dan luas jangkauannya. Terjadilah perubahan orientasi budaya yang kadang-kadang menimbulkan dampak terhadap tata nilai masyarakat, yang sedang menumbuhkan identitasnya sendiri sebagai bangsa.

APA DAYA KREATIVITAS YANG DITAMPILKAN DAN APA NILAI-NILAI KEHIDUPAN YANG TERDAPAT DALAM DAYA KREATIVITAS TERSEBUT?

Kami menampilkan kreativitas berupa nyanyian grup. Nilai-nilai yang kami sampaikan dari nyanyian grup kami dengan lagu berjudul PUPUS yang dibawakan oleh band DEWA adalah kisah cinta yang berteuk sebelah tangan dan tetap menunggu hingga mendapat jawaban atas perasaanya yang sangat tulus. nilai-nilai tersebut kami ambil dari liriknya berikut ini:






Apah manfaat setelah mempelajari ILMU SOSIAL DASAR

Akhir-akhir ini banyak universitas-universitas di Indonesia sudah mulai menerapkan ilmu sosial dasar sebagai mata kuliah softskill. Apa itu softskill? Softskill adalah suatu kemampuan yang akan didapat oleh siswa dalam hal hubungan antar sesama dalam kehidupan sehari-sehari. Melalui softskill ini diharapkan juga para mahasiswa untuk bisa bergaul dengan benar dan baik terhadap lingkungan sekitarnya.

        Nah, muncul lagi sebuah pertanyaan seperti ini: Kenapa sih harus ada yang namanya mata kuliah ilmu sosial dasar ini? Kompetensi apa yang diharapkan melalui mata kuliah ini? Sebelum kita menjawab lebih lanjut, ada baiknya kita mengetahui tujuan dari ilmu sosial dasar itu sendiri. Tujuan yang paling utama atau kompetensi yang diharapkan ketika mempelajari ini adalah memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum kepada mahasiswa tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji gejala-gejala sosial yang terjadi di sekitarnya. 

Ilmu sosial dasar ini, walaupun bukan mata kuliah utama, tapi sifatnya wajib. Kenapa? Karena mata kuliah ini ditujukan supaya kita dapat aktif di tengah-tengah lingkungan kita saat ini maupun di masa yang akan datang nanti. Mata kuliah ini bukanlah suatu disiplin ilmu tetapi lebih merupakan kajian yang sifatnya multi atau interdisipliner (Membuat seorang atau beberapa mahasiswa menjadi mahasiswa yang berdisiplin dan berpikir dewasa).

Nah, jangan memandang kalau mata kuliah ini tidak berbobot, tetapi lihatlah dampak yang akan ditimbulkan apabila kita mempelajari ini di dalam perkuliahan. Jika kita mempelajari dan mempraktekkan dengan sungguh-sungguh mata kuliah ini, maka kita dapa memiliki tingkat kepekaan social yang tinggi terhadap lingkungan sosialnya. Selain itu, kita bisa memiliki kepedulian sosial dalam menerapkan ilmunya di dalam masyarakat. Sangat penting sekali bukan? Kita adalah makhluk social, yang tidak bisa hidup dengan hanya sendirian saja. Kita perlu bersosialisasi dengan orang lain juga. Oleh sebab itu, ktia harus mempelajari kehidupan sosial di tengah-tengah dunia ini seperti apa dan bagaimana cara kita untuk dapat menjaga hubungan sosial ini tetap harmonis dan baik.

“Penelitian membuktikan bahwa manusia apabila dikurung di dalam sebuah ruangan yang luas dengan berbagai macam benda yang diinginkan dan ditinggal sendirian, ia tetap merasa tidak tenang dalam hidup meskipun semua benda yang diinginkannya telah tersedia karena rasa kesepian itu. Kesimpulannya adalah manusia tidak bisa hidup sendirian.”
READMORE
 

Tulisan ISD 10 Agama dan Masyarakat

Pada bahasan kali ini, saya akan membahas tentang  pengaruh agama di dalam masyarakat, serta bentuk-bentuk konflik tentang perbedaan beragama di salah satu negara di dunia. Menurut pendapat saya, agama adalah kepercayaan yang dianut seseorang untuk membimbing hidupnya serta menjadi pedoman bagi segala aktifitas yang dilalui seseorang.

Di negara Indonesia, terdapat 5 agama atau kepercayaan yang dianut oleh masyarakatnya. Yaitu Islam, Katolik, Kristen, Hindu, dan Budha. Agama atau kepercayaan yang pertama kali masuk ke Indonesia adalah Agama Hindu, setelah agama Hindu kemudian masuklah Agama Budha, setelah agama Budha  kemudian masuklah Agama Islam, setelah agama Islam, kemudian disusul oleh agama Kristen dan Katolik.  Sejauh yang saya tahu, menurut saya bahwa perbedaan beragama di Indonesia dapat berjalan dengan damai dan aman –aman saja. Sebagai buktinya di wilayah Jakarta terdapat tempat beribadah bagi umat Muslim yaitu Mesjid Istiqlal, mesjid yang bisa saya katakan sangat besar  ini terletak di depan atau di seberang tempat beribadah umat Kristen, yaitu Gereja Katedrhal. Menurut saya ini sudah cukup membuktikan bahwasannya perbedaan beragama bukanlah menjadi penghalang masyarakat untuk hidup damai, aman, dan tentram.

Sebagai hak asasi manusia, bahwa setiap manusia berhak untuk mendapatkan kebebasan beragama. Jadi, siapapun orangnya, mau kaya atau miskin, mau tua atau muda, mau pria atau wanita, adalah berhak untuk mendapatkan kebebasan beragama. Dan merupakan suatu kewajiban seseorang untuk menghormati umat beragama lain. Sebagai contoh, misalnya Si A beragama Islam, sedangkan Si B beragama Katolik, ketika Si A melakukan ibadahnya di mesjid untuk sholat, kewajiban dari Si B adalah menghormati Si A yang sedang melakukan ibadahnya, begitu juga sebaliknya, ketika Si B sedang melakukan ibadahnya di gereja, sudah menjadi kewajiban Si A untuk menghormati Si B yang sedang melakukan ibadahnya. Itulah  yang dinamakan dengan  Toleransi Beragama.


Sedangkan untuk konflik beragama, yang saya ketahui adalah beberapa agama yang berselisih prinsip tentang agama yang dianut nya masing-masing. Sebagai salah satu contoh yang saya ketahui, di negara India. Di India terdapat banyak agama yang dianut oleh masyarakatnya, salah satunya adalah agama Hindu dan agama Islam. Yang menjadi dasar konflik nya adalah untuk agama Hindu, dalam upacara keagamaannya umat Hindu mendewakan sapi, dalam arti lain sapi sangatlah dihormati oleh umat Hindu. Untuk agama Islam, untuk merayakan salah satu hari raya nya yaitu Hari Raya Idul Adha, di dalam hari raya ini, umat muslim bagi yang mampu diwajibkan untuk menyembilih sapi atau kambing yang kemudian dagingnya akan dibagikan kepada orang yang membutuhkan. Yang menjadi konflik nya adalah, untuk agama Islam untuk merayakan hari raya nya diperlukan pemotongan kambing/sapi, sedangkan untuk agama Hindu untuk merayakan hari raya nya umatnya menghormati atau mendewakan sapi, nah dari sini lah awal konflik antar umat beragama di India.
READMORE
 

Agama dan Masyarakat

A.Pengertian agama dan masyarakat

Kaitan agama dengan masyarakat banyak dibutikan oleh pengetahuan agama yang meliputi penulisan sejarah dan figure nabi dalam mengubah kehidupan sosial, argumentasi rasional tentang arti dan hakikat kehidupan. Bukti di atas sampai apada pendapat bahwa agama merupakan tempat mencari makna hidup yang final dan ultimate. Kemudian, pada urutannya agamayang diyakini merupakan sumber motivasi tindakan individu dalam hubungan sosialnya dan kembali pada konsep hubungan agama dengan masyarakat.
Membicarakan peranan agama dalam kehidupan sosial menyangkut dua hal yang sudah tentu hubungannya erat memiliki aspek-aspek yang terpelihara. Yaitu pengaruh dari cita-cita agama dan etika agama dalam kehidupan individu dari kelas social dan grup social, perseorangandan kolektivitas dan mencakup kebiasaan dan cara semua unsur asing agma diwarnainya. Yang mempunyai seperangkat arti mencakup perilaku sebagai pegangan individu (way of life) dengan kepercayaan dan taat kepada agamanya. Agama sebagai suatu system mencakup individu dan masyarakat, seperti adanya emosi keagamaan, keyakinan terhadap agamanya.
Dalam proses sosial, hubungan nilai dan tujuan masyarakat relative harus stabil dalam setiap momen. Bila terjadi perubahan dan kultural hancurnya bentuk social dan cultural lama. Masyarakat dipengaruhi oleh berbagai perubahan sosial. Setiap kelompok berbeda dalam dalam kepekaan agama dan cara merasakan titik kritisnya. Dalam kepekaan agama setiap kelompok berbeda dalam menafsirkannya, semua sesuai dengan situasi apa yang dihadapi oleh kelompok tersebut. Disamping menawarkan nilai-nilai dan solidaritas baru, juga tampil pola-pola sosial untuk mencari jalan keluar dari pengalaman yang mengecewakan anomi, menetang sumber yang nyata dan mencoba mengambil upaya pelarian yang telah disediakan oleh situasi.
B.Fungsi agama
Agama dalam kehidupan masyarakat sangat penting, misalnya saja dalam pembentukan individu seseorang. Fungsi agama dalam masyarakat adalah:
fungsi agama di bidang social : dimana agama bisa membantu para anggota-anggota masyarakat dalam kewajiban social.
Fungsi agama dalam keluarga
fungsi agama dalam sosialisasi: dapat membantu individu untuk menjadi lebih baik diantara lingkungan masyarakat-masyarakat yang lain supaya dapat berinteraksi dengan baik.
C. Pelembagaan agama
Tiga tipe kaitan agama dengan masyarakat:
a. masyarakat dan nilai-nilai sacral
b. masyarakat-masyarakat praindustri yang sedang berkembang
c. masyarakat-masyarakat industri sekuler
Pelembagaan agama
         Pelembagaan agama adalah apa dan mengapa agama ada, unsur-unsur dan bentuknya serta fungsi struktur agama. Dimensi ini mengidentifikasikan pengaruh-pengaruh kepercayaan di dalam kehidupan sehari-hari.


D.Agama, konflik dan masyarakat
            Upacara-upacara yang bernuansa agama suku bukannya semakin berkurang tetapi kelihatannya semakin marak di mana-mana terutama di sejumlah desa-desa.Misalnya saja, demi pariwisata yang mendatangkan banyak uang bagi para pelaku pariwisata, maka upacara-upacara adat yang notabene adalah upacara agama suku mulai dihidupkan di daerah-daerah.
Upacara-upacara agama suku yang selama ini ditekan dan dimarjinalisasikan tumbuh sangat subur. Anehnya sebab bukan hanya orang yang masih tinggal di kampung yang menyambut angin segar itu dengan antusias tetapi ternyata orang yang lama tinggal di kotapun menyambutnya dengan semangat membara. Misalnya pemilihan hari-hari tertentu yang diklaim sebagai hari baik untuk melaksanakan suatu upacara. Hal ini semakin menarik sebab mereka itu pada umumnya merupakan pemeluk yang “ fanatik” dari salah satu agama monoteis bahkan pejabat atau pimpinan agama. Jadi pada jaman sekarang pun masih banyak sekali hal yang menghubungkan agama dengan kepercayaan-kepercayaan seperti itu sehingga bisa menimbulkan konflik bagi masyarakat itu sendiri.
READMORE